Arjuna Visada Yoga (Gundahnya Sang Arjuna)
Bermulalah di sini Gita suci yang dituturkan dari Yang Maha Suci Krshna.
Dhṛtarāṣṭra uvāca:
dharma-kṣetre kuru-kṣetre
samavetā yuyutsavaḥ
māmakāḥ pāṇḍavāś caiva
kim akurvata sañjaya
_______
Dhritarashtra said: O Sanjaya, after my sons and the sons of Pandu assembled in the place of pilgrimage at Kurukshetra, desiring to fight, what did they do?
_________
Berkatalah Dhristarashtra :
1. Di dataran nan suci ini (dharmakshetra), tanah kebenaran, tanahnya para Kuru, berkumpullah putra-putraku beserta laskar-laskar mereka, dan juga putra-putra Sang Pandu (Ayahanda Pandawa) bersiap-siap untuk suatu yudha. Apa saja yang sedang mereka lakukan beritakanlah kepadaku, wahai Sanjaya.
Ulasan:
Kurukshetra disebut juga dharmakshetra, terletak di Hastinapura, (sekarang: di utara kota New Delhi yang modern dewasa ini). Tempat ini di masa yang silam dianggap suci karena sering dipergunakan oleh para resi, ksatrya untuk bertapa, bahkan kabarnya juga oleh para dewa-dewa.
Salah satu kata pertama yang disebut di sloka pembukaan Bhagavadgita di atas ini adalah kata dharma, inilah inti sebenarnya yang harus diresapkan oleh kita semua. Karena inilah salah satu pesan sesungguhnya Bhagavadgiita. “Bangunlah jiwa dan ragamu dengan dan untuk dharma.”
Kata dharma berasal dari kata “Dhru” yang berarti “pegang.” Dharma adalah kekuatan yang memegang hidup ini, dharma tidak terdapat dalam ucapan-ucapan manis. tetapi adalah kesaktian di dalam jiwa kita yang merupakan inti dari kehidupan kita. Dan Kshetra berarti padang, ladang atau medan. Seyogyanyalah kita bertanya pada pribadi kita masing-masing, “apa sajakah yang selama ini yang telah kutanam dan kupetik dalam hidupku ini, dharma ataukah adharma?.
Bagi yang menanam dharma maka hidupnya akan menghasilkan karunia Ilahi, dan yang telah melakukan adharma maka kita dapat bercermin kepada para Kaurawa. “Bersiap-siap untuk suatu yudha,” Kaurawa menginginkan perang, sedangkan para Pandawa sebenarnya menginginkan perdamaian. Sang Krshna yang Maha Bijaksana berusaha agar perdamaian terwujud, tetapi para Kaurawa selalu menolaknya. maka untuk mempertahankan diri dan menegakkan dharma/kebenaran terpaksalah para Pandawa berperang walaupun dengan laskar yang sedikit. Tetapi yang sedikit ini akhirnya akan menang karena mereka berjalan tegak di jalan kebenaran. Dalam ucapan Dhritarashtra yang mengatakan di atas “tanahnya para Kuru” dan juga ‘”putra-putraku,” tersirat adanya rasa egois atau ahamkara (angkara) yang besar. Inilah sebenarnya sumber dari segala tragedi dalam hidup ini.
Demikian ulasan Adhyaya I.1 yang dapat saya ketengahkan
Semoga bermanfaat, Matur Suksma
Om Santih Santih Santih Om
♡ Jro Mangku Danu
Rabu, 27/04/2016, 00.01
Suwecan Kawitan
Benih kebijaksanaan dari semesta raya
Tuesday, April 26, 2016
Tuesday, December 16, 2014
Selamat Hari Raya Galungan
Kukuruyuk....kukuruyuk.... begitu bunyi ayam membangunkan isi bumi ini. Lalu lalang jejak kaki sepagi ini, setelah uapan terahir, terdengar suara lembut, "nak bangun, metahari sebentar lagi terbit, hari ini kita merayakan Galungan", kata sang Ayah.
Hari ini bangun lebih pagi untuk segera bersiap dan menyiapkan segala sesuatu untuk menyambutnya. "Begitu spesialkan hari ini, sampai dibangunkannya aku dari kantuk yang teramat?", gitu gumam sang anak.
Mentari sudah menampakan senyumnya tepat setelah persiapan upakara persembahyangan Galungan selesai. Kidung wargasari mengantarkan si meme ngayabin banten, terdengar suara khas dari ayah melantunkan puja, kemudian kami semua ngaturan sembah, menghaturkan suksmaning manah alias terima kasih dan memohon wara nugraha-Nya.
Hari ini adalah kehidupan yang dihasilkan dari begitu banyaknya cinta kasih, ketulusan dari ayah dan ibu, mema dan bape. Sudah banyak Galungan yang terlewati sampai bisa mengerti, betapa ketulusan mereka sangat berarti sehingga bisa mengatarkan kami menjadi seorang anak yang mandiri. Semoga dengan segala kekurangan kami, masih bisa menjadi kebanggaan di hati mereka.
Selamat merayakan Galungan meme dan keluarga sami, semoga Dewa Hyang bisa turut menyaksikan betapa bangganya kita pernah hidup dan dibesarkan-Nya.
Rahajeng Galungan

Bogor, 17 Desember 2014
I Gede "kadek" Udiantara
Subscribe to:
Comments (Atom)