Kukuruyuk....kukuruyuk.... begitu bunyi ayam membangunkan isi bumi ini. Lalu lalang jejak kaki sepagi ini, setelah uapan terahir, terdengar suara lembut, "nak bangun, metahari sebentar lagi terbit, hari ini kita merayakan Galungan", kata sang Ayah.
Hari ini bangun lebih pagi untuk segera bersiap dan menyiapkan segala sesuatu untuk menyambutnya. "Begitu spesialkan hari ini, sampai dibangunkannya aku dari kantuk yang teramat?", gitu gumam sang anak.
Mentari sudah menampakan senyumnya tepat setelah persiapan upakara persembahyangan Galungan selesai. Kidung wargasari mengantarkan si meme ngayabin banten, terdengar suara khas dari ayah melantunkan puja, kemudian kami semua ngaturan sembah, menghaturkan suksmaning manah alias terima kasih dan memohon wara nugraha-Nya.
Hari ini adalah kehidupan yang dihasilkan dari begitu banyaknya cinta kasih, ketulusan dari ayah dan ibu, mema dan bape. Sudah banyak Galungan yang terlewati sampai bisa mengerti, betapa ketulusan mereka sangat berarti sehingga bisa mengatarkan kami menjadi seorang anak yang mandiri. Semoga dengan segala kekurangan kami, masih bisa menjadi kebanggaan di hati mereka.
Selamat merayakan Galungan meme dan keluarga sami, semoga Dewa Hyang bisa turut menyaksikan betapa bangganya kita pernah hidup dan dibesarkan-Nya.
Rahajeng Galungan

Bogor, 17 Desember 2014
I Gede "kadek" Udiantara